tuturwidodo..com

tuturwidodo..com

17 April 2012

Saya Ikhlas Ko', Apa Iya?

Ditulis Oleh pada 17 April 2012


Kata ikhlas merupakan salah satu kata yang popular dan sudah kita kenal sejak masih dari TK atau bahkan ketika masih Play Group. Bapak, Ibu, Guru dan semua orang tua serta pendidik yang bijak selalu mengajarkan kepada kita untuk berbuat ikhlas dalam segala tindakan dan kondisi. Agamaku pun, Islam, mengajarkan hal yang sama. Bahkan orang muhlis – sebutan bagi orang yang berbuat ikhlas dalam Islam – mendapat tempat tersendiri di Surga serta setan pun tidak berani mengganggu mereka. Sungguh menurutku kedudukan dan derajat yang sangat tinggi dan pantas untuk diusahakan.

Pada tataran makna ikhlas ini, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Tentunya itu semua hanyalah opini pribadiku ( kalau toh tidak semua tetapi sebagian besarlah). Oke, kita mulai dengan makna ikhlas yang sudah dikenal umum terlebih dahulu. Ikhlas yaitu kita memberikan sesuatu, baik barang ataupun jasa, kepada orang lain tanpa pamrih tanpa mengharap imbalan apapun.

Makna yang seperti ini tentulah bukan barang baru lagi bagi kita. Semua orang sudah hafal dengan fasih tanpa perlu lagi membuka kamus bahasa Indonesia yang tebal sekalipun. Yang ingin saya komentari adalah soal dimensi waktu dari makna ikhlas tersebut. Hal ini menurutku penting dan harus bisa dipahami oleh setiap orang. Yang saya maksud yaitu ketika membaca definisi/ makna ikhlas,” memberikan sesuatu, baik barang ataupun jasa, kepada orang lain tanpa pamrih tanpa mengharap imbalan apapun” maka jangan hanya diartikan makna tersebut ketika kita sedang in action atau sedang berbuat saja. Masih bingung ya maksudnya? (Jelaslah lha wong kalimatnya ribet amat!). Lebih jelasnya begini, ketika kita sedang berbuat suatu kebaikan, misal memberi makan pengemis, menolong teman atau memberikan kebaikan – kebaikan yang lain, maka akan sangat mudah (atau lebih tepatnya relative mudah) kita berkata, “aku ikhlas ko, beneran” dan mungkin memang benar kita 100% ikhlas ketika berbuat itu. Tapi apakah itu sudah cukup? Apakah hanya yang demikian tataran makna dari ikhlas itu? Kalau hanya yang demikian, saya rasa banyak orang yang mampu. Dan tidak sulit tentunya. Menurut saya, tataran makna ikhlas lebih dari itu. Dimensi waktu ikhlas tidak cukup hanya ketika kita in action saja. Justru ujian terberat adalah setelah kita berbuat. Mungkin sehari, dua hari, seminggu, sebulan, setahun atau berpuluh - puluh tahun kemudian setelah perbuatan baik tersebut kita lakukan. Masih sanggupkah kita ikhlas? Contoh sederhananya begini, anda menolong sahabat dekat anda yang sedang membutuhkan bantuan. Tentu saja anda akan ikhlas membantunya karena dia adalah sahabat anda. Anda pasti akan 100% ikhlas. Ini tataran makna ikhlas in action yang saya maksud. Masalahnya adalah ketika suatu saat teman dekat anda tersebut anda mintai bantuan tetapi dia tidak mau dan justru acuh tak acuh atau malah yang paling parah setelah semua kebaikan ‘yang katanya ikhlas tersebut’ dia mengkhianati anda, peribahasanya air susu dibalas air tuba. Dan pada akhirnya anda mengungkit - ungkit kebaikan anda tersebut - inilah sifat dasar manusia. Anda berkata dalam hati atau bahkan mengumbar cerita kepada orang lain, “Si A itu lho tak tau diri. Kurang apa aku coba. Kalau dia susah aku tolong, dia sakit aku jenguk. Kemana – mana aku antar dan aku jemput. Tapi giliran aku cuma minta tolong untuk ngasih saran saja dia tidak mau, malah cuek. Teman macam apa coba. Apakah semua kebaikanku itu dia lupakan begitu saja”. Apakah yang seperti ini masih bisa dibilang anda ikhlas dulu ketika berbuat kebaikan?

Berbuat baik dengan ikhlas kepada orang lain dan orang lain tersebut juga baik kepada kita adalah suatu perkara yang relative mudah. Disini ikhlas sih gampang - gampang saja. Bagi saya, ikhlas itu justru susahnya setengah mati kita pertahankan setelah perbuatan baik tersebut kita laksanakan. Karena bisa jadi, orang yang kita berikan kebaikan tersebut justru balik berbuat jahat kepada kita. Apabila terjadi demikian - seperti cerita singkat dia atas – dan kita kembali mengungkit - ungkit semua kebaikan yang telah kita perbuat, maka nilai ikhlas kita yang sudah 100% ketika in action pun akan luntur seketika. ANDA SEBENARNYA TIDAK IKHLAS.

Ingat! IKHLAS ITU MEMBERIKAN SESUATU, BAIK BARANG ATAUPUN JASA, KEPADA ORANG LAIN TANPA PAMRIH TANPA MENGHARAP IMBALAN APAPUN. TANPA PAMRIH. TANPA MENGHARAP IMBALAN. Tapi bila anda kecewa ketika orang yang anda beri kebaikan tidak berbuat baik kepada anda atau justru jahat , apakah anda masih sanggup bilang bahwa anda ikhlas? Kalau anda kecewa, berarti ketika berbuat baik anda juga punya harapan dia baik juga kepada anda. Dimana letak makna TANPA MENGHARAP IMBALAN. Bukannya anda sudah mengharap imbalan dengan berharap dia juga baik dengan anda. Apakah masih ada ruang ikhlas untuk yang seperti ini? Mari direnungkan bersama.
...................................
IKHLAS.
...................................
Ternyata ikhlas itu susah. Berat.

Perlu dipahami, berbuat ikhlas ketika in action itu gampang. Yang sulit adalah mempertahankan keikhlasan tersebut tetap murni disaat kita tahu bahwa orang yang kita beri kebaikan tersebut ternyata tak pernah baik kepada kita. Ingat! Ikhlas akan lebih mudah jika kebaikan kita bersambut. Tetapi akan sangat sulit jika kebaikan itu hanya satu arah dari kita saja. Namun, disinilah letak makna ikhlas yang sebenarnya. Ikhlas yang berderajat tinggi. Ikhlas, yang bahkan setan pun tak mampu dan tak berani mengganggu pelakunya.





2 comments :

  1. mas, mau nanya. bgmna cara menggambar grafik fungsi atau yg lainnya di $\LaTeX$ ? sampean ada tutorialnya ???

    mohon balasannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo untuk gambar di $LaTeX$ memang agak susah mas. Saya pakai package PGF dan TIKZ untuk gambar. Tetapi karena kalo harus nulis code untuk gambar itu susah dan relatif panjang, makanya saya pakai juga Geogebra. Dari Geogebra nanti tinggal di generate code $LaTeX$-nya.

      Untuk keterengan labih lanjut mengenai PGF dan Geogebra, silakan jenengan Googling saja.

      Delete