tuturwidodo..com

tuturwidodo..com

29 May 2010

Harapan (sebuah awal kebangkitan)

Ditulis Oleh pada 29 May 2010


Hari ini mungkin aku sedang dalam kondisi terburuk dalam hidupku. Bisa lebih parah mungkin dari sekedar kata- kata yang aku ungkapkan itu. Apa yang aku alami hari ini adalah akumulasi dari seluruh perasaan terpendam yang selama ini aku coba untuk mengabaikannya. Tapi ternyata setiap manusia ada batasnya. Hari ini aku merasakan batas itu. Semua perasaan dan masalah terasa tidak mampu lagi aku pendam. Amat berat. Semua mengapung ke permukaan, menutupi akal sehat dan logika yang kadang aku agungkan. Muncul pertanyaan dalam diriku, apa sih ini? Mungkin aku sering membantu memecahkan masalah orang lain, membantu yang terpuruk agar bisa naik, mengingatkan yang lupa agar kembali ke jalurnya. Tapi ternyata ketika masalah itu datang memberondong diriku, aku tak kuasa menahannya. Kata- kata yang sering aku ucapkan dan nasihatkan pada orang lain terasa kering makna bagiku hari ini. Semua terlintas begitu saja dalam benakku tanpa membawa satu artipun bagiku.

Aku ingin sekali memaki diriku karna mungkin hanya hal itu yang bisa aku lakukan kali ini. Aku ingin memaki perasaan dan hatiku yang telah mati. Begitu banyak hal telah terlewat begitu saja dihadapanku padahal bisa jadi itu merupakan hal yang sangat besar maknanya bagi orang lain. Aku berpikir apakah benar hatiku telah pergi, lari bersama perasaan yang ada padanya. Ataukah dia masih ada dalam ragaku sebagai seonggok daging biasa, tanpa arti. Sekali lagi aku tak sanggup menjawabnya. Akalku tak lagi bekerja. Semua gelap.

Malam ini, aku ingin sekali cepat tidur. Seperti halnya kebanyakan orang, aku berharap sama. Aku berharap tidur bisa menjadi obat dari semua masalah yang sedang bangga menderaku. Aku coba pejamkan mataku sambil mengingat hal indah yang masih disisakan dikapalaku. Masalahku pun selesai, pikirku.

...................................................

Malam ini, ternyata mimpi masih menyapaku. Tapi setidaknya dia tidak seperti yang lain. Dia datang tanpa membawa masalah. Hanya sekejap memang. Di mimpi itu aku melihat seorang nenek tua yang berjalan sendirian menyusur jalan setapak di siang yang panas. Aku coba dekati nenek itu. Dalam hati aku ingin bertanya, mau kemana nek? Nenek itupun melihatku sambil tersenyum. Senyum yang sangat damai, sejuk dan menentramkan hati. Beliau berkata dengan pelan, " Aku ingin pergi ke ujung jalan ini. Di sana ada pohon yang sangat rindang. Aku ingin berteduh." Aneh. Nenek itu menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat aku utarakan. Dan sepengetahuanku di ujung jalan ini hanya ada jurang, pohon kecilpun tidak ada apalagi rindang. Belum selesai aku berkata dengan batinku, nenek itu kembali menatapku dengan senyumnya yang tentram. Aku merasakan kesejukan yang luar biasa. Beliau kembali berkata, " Di sini nenek sudah tidak punya kerjaan apa- apa lagi. Berdiam disini pun tidak akan membuat nenek bahagia. Setidaknya dengan berjalan nenek masih punya harapan dan merasakan hidup". Mendengar itu, aku terpukul.

...................................................

Jam dua pagi, aku terbangun. Aku masih teringat perkataan nenek di mimpiku. Aku malu dengan diriku. Banyak waktu dan banyak kesempatan yang lewat di depanku tanpa aku sadari. Aku masih berdiri di lingkaran ini. Lingkaran kecil yang aku buat ketika masih semester satu. Aku tak beranjak sedikitpun. Lalu kemana waktuku selama ini.

Aku sadar ada sesuatu pada diriku yang telah hilang. Bukan waktu sebenarnya, karena dia masih setia datang padaku. Yang hilang dari diriku adalah harapan. Aku memang sudah lama tidak punya itu. Beberapa saat bahkan beberapa tahun aku enjoy saja dengan keadaan ini. Tapi baru kali ini aku merasakan begitu hampanya hidup tanpa hiasan harapan. Aku sekali lagi malu dengan nenek di mimpiku. Beliau masih bersemangat berjalan dan berusaha mencapai harapan yang beliau tetapkan, padahal mungkin nenek itu juga sudah tahu bahwa harapannya hanya angan- angan belaka. Tapi beliau masih berusaha dan menikmati hidupnya. Bahwa masih ada harapan yang membuatnya hidup. Aku iri dengan nenek itu. Karna aku yang masih muda telah hilang harapan dan cita- cita.

Sekitar satu jam aku merenung. Kembali mengurai apa arti hidupku. Apa tujuan dan harapanku. Aku ingin bisa menikmati hidup dan tetap punya angan- angan sehingga aku berjalan punya arah dan tak hampa.

Sekarang aku punya kesimpulan. Setiap manusia harus punya harapan dalam hidupnya. Semustahil apapun itu jangan sampai biarkan dia pergi. Terus peliharalah dalam diri kita. Karna apapun harapan itu mau terlaksana atau tidak, setidaknya dia akan memberi warna dan makna bagi hidup kita. Dan bagiku warna dan arti itu lebih bernilai dari harapan itu sendiri. Sebab hidup yang hampa dan kosong bagiku adalah masalah terbesar dan terberat bagi setiap manusia.

Bagi diriku, rekan- rekanku dan semua orang yang membaca tulisan ini. Mari hidup dengan harapan. Jangan biarkan rasa takut dan bimbang serta ketidakmampuan menghapus harapan itu. Percayalah! dan semua akan menjadi indah walau sampai ajal tiba harapan itu belum juga terwujud. Karna sejatinya dengan harapan itu, kita telah berhasil memaknai hidup.

Pagi ini, seusai sholat subuh aku kembali bisa merasakan kesejukan embun dan kesegaran udara pagi. Aku telah tetapkan harapan dan tujuan hidupku. Aku berjanji akan mewujudkan semuanya. Sampai ketika kata "tak bisa" itu muncul, aku telah di liang lahat.

Mari hidup dengan harapan. Jangan biarkan rasa takut dan bimbang serta ketidakmampuan menghapus harapan itu. Percayalah! dan semua akan menjadi indah walau sampai ajal tiba harapan itu belum juga terwujud. Karna sejatinya dengan harapan itu, kita telah berhasil memaknai hidup.



-- Tutur Widodo --





5 comments :

  1. Anonymous01 June, 2010

    "harapan"....Meski ia tidak nampak tapi sebetulnya ia adalah kekuatan yang amat besar.
    ada satu website yang membwtQ begitu ingin berpikir, berharap, dan menatap hari ini sebagai peluang terbesarku menggapai semuanya ...http://maswid.student.fkip.uns.ac.id/...

    Harapan itu sebenarnya sudah ada di diri Mas Tutur.
    Setidakny aharapan untuk membwt orang lain jadi males...heeee...piis Mas

    ReplyDelete
  2. harapanku dah hilang..lebur..terbawa angin......tapi za sudahlah.....g penting juga aq nulis disini

    ReplyDelete
  3. halo..salam kenal ya^^

    ReplyDelete
  4. thanks, u give me new spirit.
    keren ja tulisannya.

    ReplyDelete
  5. yg pertama, kita harus punya harapan
    yg kedua, wujudkan harapan itu dg ikhtiar
    dan
    jangan lupakan Sang Pencipta kita.
    Buatlah Sang Pencipta mu bangga padamu,
    tulislah lembar kehidupan mu dg tinta emasmu...
    ^_^

    ReplyDelete